Judul Novel: Hate List
Penulis: Jennifer Brown
Penerbit: Spring
Penerjemah: Yudith Listiandri
Pemeriksa Bahasa: Mery Riansyah
Penyunting: Ayu Yudha
Penyelaras Aksara: Mery Riansyah
Terbit: September, 2017
Tebal: 378 hlm
ISBN: 978-602-6682-01-7
***
***
Blurb:
Lima bulan yang lalu, pacar Valerie yang bernama Nick melakukan penembakan di kafetaria sekolah. Pemuda itu menembaki orang-orang yang namanya ada di dalam Daftar Kebencian yang Valerie buat; sebuah daftar berisi nama-nama orang yang dia dan Nick benci.
Sekarang, setelah liburan musim panas usai, Val dipaksa untuk menghadapi rasa bersalahnya ketika dia harus kembali ke sekolah untuk menjalani tahun terakhir di SMA. Dihantui oleh rasa sayangnya pada Nick dan Daftar Kebencian yang dia buat, bisakah Val melanjutkan hidupnya di tengah penghakiman teman-teman sekelas dan sahabat-sahabatnya?
***
Hate List mengisahkan tentang perjuangan hidup Valerie setelah kejadian penembakan yang melibatkan Nick. Valerie yang sebenarnya tidak bersalah dalam kejadian tersebut, harus menghadapi tatapan ngeri setiap orang yang melihat dirinya. Termasuk keluarga, sahabat, dan temannya. Val hanya ikut berkontribusi dalam penulisan nama-nama dalam 'Daftar Kebencian' itu, tapi tidak mengetahui apapun tentang penembakan yang akan dilakukan Nick. Di sini, Valerie juga termasuk korban, karena dia juga terkena tembakan di bagian pahanya. Lantas, bagaimana kelanjutan hidup Val jika terus ditekan seperti itu? Hampir tidak ada yang percaya dengan Val, hanya Jessica dan dokternya saja yang memahami Val.
***
Ketika membaca kisah Val ini, aku merasa sedih sekaligus marah😌. Sedih karena Val harus mengalami segala diskriminasi atas kesalahan yang tidak dia lakukan, marah karena Nick bisa begitu tega menembaki teman-temannya dan meninggalkan Val sendiri. Aku merasa marah juga karena Val dalam benaknya terus-menerus membela dan masih memikirkan Nick. Meski begitu, aku cukup salut dengan Val. Dia masih mau berjuang untuk memperbaiki segalanya. Menyatakan kebenaran kepada media, kepada dunia. Aku suka bagaimana cara Val memperbaiki itu semua!🙈 Yah, tapi perjuangan untuk melakukannya pun berat.
***
Dalam buku ini ada banyak banyak karakter. Meski banyak, tapi ngga bikin bingung alurnya kok. Di buku ini ada beberapa karakter yang tidak aku suka, namun ada beberapa karakter yang aku suka pula. Dengan sikapnya, mereka mengajariku bagaimana cara untuk bersikap dan bertindak di kehidupan sosial. Mari berkenalan dengan tokoh yang aku sukai terlebih dahulu🙈.
Yang pertama, Dokter Hieler. Dokter Hieler bagiku itu dokter yang sangat sabar. Ia selalu berhasil meyakinkan Val untuk melanjutkan hidup, dia juga memberi perhatian serta masukan tentang apa yang harus Val lakukan selanjutnya. Dia berusaha memahami Val, sehingga Val pun bisa nyaman cerita semuanya ke Dokter Hieler. Dokter Hieler ini menurutku merupakan sosok orang tua yang sangat diidam-idamkan. Seandainya saja Dokter Hieler ini adalah orang tua Val, pasti Val tidak akan terlalu tertekan di rumah.
Yang kedua ada Jessica. Jessica termasuk dalam siswi tenar di kalangan Garvin High School. Sebelum penembakan terjadi, Jessica tidak menyukai Val, begitu pun sebaliknya. Perasaan tidak suka mereka berubah setelah kejadian penembakan itu. Jessica menjadi sosok teman bagi Val. Awalnya Val memang tidak memercayai Jessica, namun lambat laun Val bisa menerima Jessica sebagai teman. Aku suka cara Jessica meyakinkan Val, dia mendekati Val dengan pelan-pelan, bahkan rela ikut makan bersama Val di lantai demi bisa mengobrol dengan Val. Zaman sekarang kayaknya susah, ya, ketemu teman yang seperti Jessica gini😫, yang bisa sabar banget dan mau membantu dalam memperbaiki segalanya.
Dan yang terakhir, ada si pemeran utama, Valerie. Valerie memiliki sifat yang tangguh. Meski dihantam rasa sakit bertubi-tubi dia tetap mampu menerjangnya, bahkan ia mampu membuktikan kebenaran kepada dunia. Val memang sempat goyah dan jatuh, tapi bagiku itu hal yang wajar jika berada di posisinya. Toh, pada akhirnya dia bisa bangkit. Dia mampu melawan dunia yang mendiskriminasinya.
Sekarang waktunya beralih pada karakter yang tidak aku sukai. Siapa mereka? Keluarga Val. Ya, aku tidak menyukai keluarga Val. Mengapa? Karena mereka sebagai keluarga tidak bisa memahami Val, mereka hanya bisa membatasi Val😫. Mereka takut jika sesuatu seperti penembakan itu masih akan terjadi. Bagaimana bisa, keluarga tidak bisa memercayai anggota keluarganya yang lain? Sungguh, aku kesal. Mereka sama sekali tidak mau memberi ruang kepada Val. Mungkin maksud mereka itu bagus, tapi cara mereka itu seratus persen salah.
***
Alurnya pas. Tidak terlalu lama, namun juga tidak terlalu cepat. Semuanya dikelupas satu persatu. Cara berceritanya menggunakan alur maju dan mundur, ada beberapa kilas balik tentang Val dan Nick. Ada pula yang diawali dengan berita dari reporter Angela Dash. Setiap perpisahan alur itu dipisah kok, jadi kalian ngga akan bingung sewaktu bacanya😁.
Ceritanya semakin seru ketika Val bertemu dengan Bea. Bea adalah pelukis yang tidak sengaja ditemui Val saat sedang konsul dengan Dokter Hieler. Bea memberikan warna di kisah Val ini, menjadi lebih cerah.
Dari keseluruhan cerita, aku hanya menyayangkan satu. Sampai akhir kisah Val ini masih tidak dikemukakan apa alasan sebenarnya Nick melakukan penembakan, jadi bagiku Hate List tidak seperti buku misteri.
***
Aku masih menemukan kesalahan penulisan; beberapa typo seperti rutun yang seharusnya turun dan bersetean yang seharusnya bersetelan, dan penggunaan penghubung - sebagai tanda penyambung suku-suku kata dasar yang terpisah baris, ada pula yang kelebihan spasi.
Kesalahan semacam itu memang wajar. Karena pengeditan pun tidak ada yang sempurna. Namun yang aku sayangkan itu penggunaan tanda penghubungnya yang tidak rapi, karena kesalahan yang ini lumayan banyak. Cmiiw.
***
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari buku Hate List ini seperti; kita tidak boleh memutuskan sesuatu itu salah atau benar hanya dengan menggunakan satu perspektif, kita harus melihatnya dari dua perspektif. Seperti saat dunia memandang bahwa Val itu salah, padahal sebenarnya tidak. Jika kita memandang dari sudut kita sendiri, kita bisa menyimpulkan jika Val memang salah, tapi jika kita melihatnya dari sudut pandang Val, dia tidaklah salah, sebab dia termasuk korban; kita juga tidak boleh memutuskan sesuatu karena hanya melihat dari luar, tapi tidak tahu bagaimana aslinya. Contohnya ketika Val dan Nick menuliskan nama Meghan dalam Daftar Kebencian, Meghan tidak mengenal Val dan Nick, begitu pula dengan Val dan Nick. Lalu, kenapa Val dan Nick memasukkan Meghan dalam Daftar Kebencian? Itu karena Val dan Nick terfokus pada sosok Chris. Saat itu Meghan dengan Chris, maka Val dan Nick berpikir jika Meghan sama saja seperti Chris.
Overall, aku suka sama ceritanya. Terlebih karena pesannya itu benar-benar sampai ke aku. Jadi aku memberikan 4/5🌟's untuk Hate List! Kalian tidak akan menyesal ketika membaca, karena kalian akan mendapatkan pandangan baru setelah membacanya😉.

1 comments:
Gaya merivie yang apa adanya, syukaaaak, jadi buku ini misterinya kurang ya mol??
Post a Comment