Judul Novel: Serendipity
Penulis: Erisca Febriani
Penerbit: Inari
Genre: Teenfict
Penyunting: Adeliany Azfar, Gita Romadhona
Design Cover: Indah Rakhmawati
Ilustrator Isi: @teguhra
Ilustrator Isi: @teguhra
Terbit: Noember, 2016
Tebal: 424 hlm
ISBN: 978-602-74322-9-1
***
Awal mula dari permasalahan ini adalah ketika Arkan melihat Rani memasuki sebuah hotel bersama seseorang. Saat itu juga Arkan mengabadikan kejadian tersebut menggunakan kamera ponselnya, dan setelahnya, dia memutuskan Rani. Jahat, ya, si Arkan? Langsung mutusin Rani gitu aja, tanpa mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Karena kejadian itu, di sekolah Rani menjadi dikucilkan, dia dibully dan diolok-olok teman seangkatan dan kakak kelasnya. Penyebab Rani dikucilkan sebenarnya bukan karena Arkan yang memberitahu seantero sekolah, tapi ada orang lain yang iri dengan Rani dan menyebarkan fitnah itu.
Untuk karakter, aku paling suka dengan Gibran. Sifatnya dia itu kalem, tapi mengejutkan. Meski dia murid pindahan di kelasnya Rani, Gibran bisa melindungi Rani saat dilanda masalah, tidak seperti Arkan yang tidak tahu apa-apa, tapi langsung menyalahkan Rani. Dia juga selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Rani, menguatkan Rani meski ia tahu jika itu akan menyakiti hatinya dan selalu membuat Rani tersenyum.Kapan ya, doi jadi seperti Gibran? Gibran menurutku orangnya suka penasaran, dan dia akan cari tahu tentang sesuatu yang bikin dia penasaran sampai bener-bener tahu kebenarannya, jadi dia harus tahu bukti akan suatu hal tersebut. Jika tidak ada bukti? Dia tidak akan percaya.
Di awal, Arkan digambarkan sebagai laki-laki yang dingin, cuek, tidak suka berdekatan dengan perempuan, pintar bermain basket, dan juga pintar. Entah kenapa, aku kurang suka dengan Arkan. Meski dia akhirnya membenci Rani, tapi seharusnya dia bisa mengontrol ucapannya kepada Rani, karena kan Rani perempuan, pasti jika dia dikata-katain dengan kasar pasti akan sakit hati. Ia juga selalu berusaha untuk membuat Rani benci padanya. Arkan sendiri juga menutupi perasaan yang sesungguhnya, dia berusaha terus menyangkal. Padahal, dia tau jelas apa yang sedang dirasakan. Dan sikap dia ke ayahnya, sangat tidak mencerminkan bahwa dia bukan anak yang pintar. Di dalam cerita, juga tidak ada bukti yang menguatkan bahwa dia itu pintar.
Rani berbeda dengan Arkan, dia masih mengakui perasaan yang sebenarnya dan tidak berusaha menyangkal. But, aku kurang suka sikap dia ke ibunya, terkesan sangat tidak menghormati orangtua. Seharusnya sebagai anak, kan, harus tetap menghormati orangtua, meski sikapnya tidak baik kepada kita.
Namun, untuk mendapat feels dari cerita ini, aku harus membaca sampai (kurang dari) setengah halaman. Awalnya aku memang tidak memiliki rasa simpati dengan Rani, tapi lama-lama saat masalah keluarganya mulai terkuak, aku mulai bersimpati dan merasakan apa yang dirasakan Rani. Ternyata, awal konflik Rani dengan Arkan terus berhubungan dengan konflik-konflik selanjutnya dalam hidup Rani. Dan semakin ke belakang, Rani semakin banyak dilanda masalah dan fakta-fakta yang mengejutkan dia.
Dalam buku ini juga masih ada beberapa typo, tapi tidak apa-apa, lah, itu hal yang wajar dalam sebuah buku jika tidak banyak. Ada beberapa kata juga yang membuatku bingung sebenarnya, tapi aku lupa apa, maaf, ya. Aku lupa untuk menyiapkan note kecil saat membaca buku ini, jadi ya, karena malas ngambil, lanjutin baca aja, deh.
Yang terakhir adalah covernya. Di cover, ada dua tangan manusia*ya tau kalau manusia* yang saling menggenggam dan ada snowflakes dengan taburan gliter ditambah warna cover yang menenagkan. Dari gambar-gambar yang ada pada cover, setiap gambar memiliki makna di dalam novel ini. Yang penasaran, coba baca aja, deh. Karya kedua kak Erisca ini tidak mungkin mengecewakan.
***
Aku memberi buku ini 3,5/5🌟's! Aku berharap, kak Eris akan terus melanjutkan tulisannya yang lain, dan semoga menjadi lebih bagus dari novel Serendipity ini. Aku memberi rating segini bukan karena keseluruhan ceritanya, tapi karena aku kagum dengan kemajuan kak Eris dalam menulis. Ceritanya ini menurutku malah tidak terlalu 'wah'.
***
Blurb:
Lo adalah serendipity gue.
Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah.
Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan 'hai' atau 'selamat pagi'.
Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup.
Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berderi tegak.
***
Serendipity adalah buku kedua yang ditulis oleh kak Erisca. Serendipity sendiri memiliki arti 'kebetulan yang berujung menyenangkan'. Seperti novel sebelumnya yang sudah diterbitkan, novel ini juga mengangkat kehidupan seputar anak sekolah. Berbeda dengan Dear Nathan, novel ini mengangkat konflik yang lebih dalam dan ceritanya tidak seperti kisah-kisah cinta yang cheesy seperti kebanyakan novel di Wattpad yang beredar. Perebedaan cara penulisannya pun sangat berbeda, di novel ini, kak Erisca mengalami banyak kemajuan.
"Seseorang yang ngehabisin sedetik dalam hidupnya untuk cemberut dan marah-marah adalah orang yang nggak bersyukur dan ngehargai hidup" ㄧhal 48
***
Awal mula dari permasalahan ini adalah ketika Arkan melihat Rani memasuki sebuah hotel bersama seseorang. Saat itu juga Arkan mengabadikan kejadian tersebut menggunakan kamera ponselnya, dan setelahnya, dia memutuskan Rani. Jahat, ya, si Arkan? Langsung mutusin Rani gitu aja, tanpa mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Karena kejadian itu, di sekolah Rani menjadi dikucilkan, dia dibully dan diolok-olok teman seangkatan dan kakak kelasnya. Penyebab Rani dikucilkan sebenarnya bukan karena Arkan yang memberitahu seantero sekolah, tapi ada orang lain yang iri dengan Rani dan menyebarkan fitnah itu.
Untuk karakter, aku paling suka dengan Gibran. Sifatnya dia itu kalem, tapi mengejutkan. Meski dia murid pindahan di kelasnya Rani, Gibran bisa melindungi Rani saat dilanda masalah, tidak seperti Arkan yang tidak tahu apa-apa, tapi langsung menyalahkan Rani. Dia juga selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Rani, menguatkan Rani meski ia tahu jika itu akan menyakiti hatinya dan selalu membuat Rani tersenyum.
Di awal, Arkan digambarkan sebagai laki-laki yang dingin, cuek, tidak suka berdekatan dengan perempuan, pintar bermain basket, dan juga pintar. Entah kenapa, aku kurang suka dengan Arkan. Meski dia akhirnya membenci Rani, tapi seharusnya dia bisa mengontrol ucapannya kepada Rani, karena kan Rani perempuan, pasti jika dia dikata-katain dengan kasar pasti akan sakit hati. Ia juga selalu berusaha untuk membuat Rani benci padanya. Arkan sendiri juga menutupi perasaan yang sesungguhnya, dia berusaha terus menyangkal. Padahal, dia tau jelas apa yang sedang dirasakan. Dan sikap dia ke ayahnya, sangat tidak mencerminkan bahwa dia bukan anak yang pintar. Di dalam cerita, juga tidak ada bukti yang menguatkan bahwa dia itu pintar.
Rani berbeda dengan Arkan, dia masih mengakui perasaan yang sebenarnya dan tidak berusaha menyangkal. But, aku kurang suka sikap dia ke ibunya, terkesan sangat tidak menghormati orangtua. Seharusnya sebagai anak, kan, harus tetap menghormati orangtua, meski sikapnya tidak baik kepada kita.
Namun, untuk mendapat feels dari cerita ini, aku harus membaca sampai (kurang dari) setengah halaman. Awalnya aku memang tidak memiliki rasa simpati dengan Rani, tapi lama-lama saat masalah keluarganya mulai terkuak, aku mulai bersimpati dan merasakan apa yang dirasakan Rani. Ternyata, awal konflik Rani dengan Arkan terus berhubungan dengan konflik-konflik selanjutnya dalam hidup Rani. Dan semakin ke belakang, Rani semakin banyak dilanda masalah dan fakta-fakta yang mengejutkan dia.
Dalam buku ini juga masih ada beberapa typo, tapi tidak apa-apa, lah, itu hal yang wajar dalam sebuah buku jika tidak banyak. Ada beberapa kata juga yang membuatku bingung sebenarnya, tapi aku lupa apa, maaf, ya. Aku lupa untuk menyiapkan note kecil saat membaca buku ini, jadi ya, karena malas ngambil, lanjutin baca aja, deh.
Yang terakhir adalah covernya. Di cover, ada dua tangan manusia
***
"Hiduplah seperti bunga dandelion.
Dandelion tidak secantik mawar, tidak seindah lili, tidak seabadi edelweiss. Dandelion tidak memiliki mahkota yang membuatnya tampak menarik. Dandelion juga tidak sewangi melati. Tapi dandelion adalah bunga paling kuat. Dia tetap bisa tumbuh di antara rerumput liar, di celah batu. Dandelion terlihat rapuh, tapi begitu kuat, begitu indah, begitu berani. Berani menentang sang angin, terbang tinggi, begitu tinggi… menjelajah angkasa sampai akhirnya tiba di suatu tempat untuk dapat tumbuh membentuk kehidupan baru.
Kadang hatimu akan terasa sakit, kadang senyummu akan hilang, kadang semangatmu bisa patah dan duniamu seolah hancur tanpa peringatan. Tidak peduli seberapa hancurnya dirimu sekarang, kamu punya kesempatan untuk mengembalikan kekuatanmu lagi. Seperti dandelion. Coba lihat di cermin. Kamu adalah kamu. Di dunia yang berisi delapan miliar manusia ini, tidak ada yang seperti kamu. Manusia saling berkompetisi. Kamu tidak boleh kalah dan menyerah, ya?
Seperti dandelion." ㄧhal 331
***
Aku memberi buku ini 3,5/5🌟's! Aku berharap, kak Eris akan terus melanjutkan tulisannya yang lain, dan semoga menjadi lebih bagus dari novel Serendipity ini. Aku memberi rating segini bukan karena keseluruhan ceritanya, tapi karena aku kagum dengan kemajuan kak Eris dalam menulis. Ceritanya ini menurutku malah tidak terlalu 'wah'.

0 comments:
Post a Comment