Judul Novel: Sayap-Sayap Kecil
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Inari
Penyunting: Yooki
Proofreader: Seplia
Design Cover: Chyntia Yanetha
Terbit: Oktober, 2015
Tebal: 124 hlm
ISBN: 978-602-71505-2-2
***
Blurb:
Para pembaca,
Berikut fakta singkat tentang diriku:
1. Namaku Lana Wijaya.
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.
Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.
***
"Dulu waktu masih kelas 6 SD aku banyak menangis. Sekarang aku sadar itu tidak ada gunanya. Aku harus meghadapinya. Dan harus menghadapinya dengan baik. Mengeluh pun tidak berguna. Lagipula, aku bisa mengeluh pada siapa?" ㄧ Lana, halaman 9.
Lana Wijaya, seorang gadis berumur enam belas tahun yang masih menginjak kelas dua SMA, tinggal di suatu kota kecil, tepatnya di bagian Jawa Timur. Ia tinggal bersama ibu kandung yang sering menyiksanyaㄧsebagai pelajaran karena Lana nakal, katanya. Kehidupan Lana di rumah maupun di sekolah biasa-biasa saja, ia sering diam dan mengasingkan diri di sekolah dan lebih memilih umtuk menulis buku harian daripada bersosialisasi dengan teman sebayanya. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Surya, kakak kelas sekaligus tetangga barunya. Pertemuan mereka terjadi di atap sekolah saat Lana sedang berlatih gitar. Semenjak saat itu, mereka menjadi sering bertemu dan menjadi semakin dekat. Hingga tiba-tiba, saat Lana mulai menyukai laki-laki itu, ia menyatakannya kepada Surya. Perasaannya itu tidak pernah terjawab sampai suatu hari Surya lenyap dari hidupnya. Lana berusaha sekeras mungkin untuk terus mencari Surya, namun hasilnya pun nihil. Sampai suatu peristiwa Lana dengan ibunya yang bisa mempertemukannya dengan Surya kembali.
***
"Aku hanya butuh ketenangan. Sebuah ketenangan yang dalam dan menghanyutkan diriku selamanya. Aku hanya ingin tenggelam dalam kedamaian itu." ㄧ Halaman 111.
Menakjubkan! >.< Cerita singkat yang sangat luar biasa. Aku sangat menyukai tulisan ini, sungguh. Sebuah novella yang bisa membuatku sangat menyukainya. Aku tidak menyangka, jika sebuah buku yang tebalnya kurang dari seratus limapuluh halaman ini bisa membuatku terkagum-kagum. Singkat namun memiliki makna yang dalam. Mungkin setelah ini aku akan menjajal karya kak Andry yang lain, apakah juga sama akan mengejutkan seperti ini. Meski ini tidak terlalu mengejutkan, sih. Karena masih bisa tertebak.
***
"Manusia diciptakan untuk menyesal. Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika sesuatu sudah telanjur terjadi? Hanya menyesal." ㄧ Halaman 120.
Entah apa yang harus aku tuliskan dalam ulasan kali ini. Karena buku ini terlalu tipis untuk diulas, aku menjadi bingung sebenarnya. Sesuai yang sudah tertulis dalam blurb di atas, buku ini merupakan buku harian Lana, tentang bagaimana dia menjalani kehidupan sehari-harinya yang penuh penderitaan.
Kisah ini mengangkat tema kekerasan pada anak, yang sebenarnya sudah sering kali kita dengar beritanya di Indonesia. Namun baru kali ini aku bisa melihat dan ikut serta merasakan suatu kekerasan pada anak lewat membaca.
Ibu Lana adalah karakter yang paling menjengkelkan dalam kisah ini, kalian pasti tahu kenapa. Kalian yang sudah membaca ini pasti juga akan sangat kesal dengan kelakuan ibu Lana itu. Sangat tidak mencerminkan sikap sebagai orangtua. Orangtua macam apa yang tega menyakiti bahkan menyiksa anak kandungnya sendiri hingga seperti itu? Astaga. Setiap Lana melakukan kesalahan kecil, ibunya selalu menghukum Lana dengan kekerasan, yang akhirnya akan dimaafkan oleh Lana. Aku berharap di dunia ini tidak akan pernah ada orangtua macam itu. Apa yang dilakukan ibunya Lana ini sudah keterlaluan, kelewat batas. Mungkin hanya Lana yang sanggup menghadapi orangtua seperti itu. Yang tidak aku mengerti, kenapa sampai saat 'itu' pun ibunya masih menyalahkan Lana? Di mana hati nuraninya? Apa dia tidak merasa tersakiti setelah apa yang terjadi pada anak kandungnya itu?
Untuk karakter Lana sendiri awalnya aku tidak terlalu simpati, karena kadang ia membuatku geram. Dia juga terlalu polos dan terlalu lapang hati untuk menerima segala penderitaan, tidak mau sesekali menentangnya. Seharusnya dia mau ikut dengan ayah kandungnya saja. Jika saja dia tidak salah mengambil keputusan, hal 'itu' tidak akan terjadi. Hm, tapi jika dia ikut ayah kandungnya pasti tidak akan ada twist di ending-nya sih. Tanpa adanya hal itu juga Lana tidak akan lagi bertemu dengan Surya.
Surya bagiku laki-laki yang cukup manis dan pengertian. Sanggup membuatku ikut tersenyum saat membaca kisah ini karena dirinya.
***
Untuk kali ini cukup segitu saja ya, karena aku tidak tahu apa lagi yang mau aku tulis dan takut menuliskan spoiler😂. Rating untuk buku ini aku memberikan 3/5🌟's! Rating ini sudah cukup tinggi untuk sebuah novella yang bisa membuatku kagum. Bayangkan saja, hanya sebuah novella. Yang novel tebal saja aku biasanya hanya memberi tiga bintang juga. Semoga karya-karya kak Andry ke depannya semakin bagus ya, ditunggu karya lainnya!😉 Setelah ini aku akan menuliskan review When the Star Falls karya Andry Setiawan juga🙈. Maaf jika masih banyak kesalahan kata dan urutan dalam ulasan kali ini^^.

0 comments:
Post a Comment